HBsAg, Anti-HBs, dan HBeAg, Penanda Penyakit Hepatitis B

Maret 10, 2010

HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah protein yang dilepaskan oleh virus hepatitis B yang sedang menginfeksi tubuh. Karena itu, protein ini dapat digunakan sebagai penanda atau marker terjadinya infeksi hepatitis B.
HBsAg dapat ditemukan baik pada penyakit hepatitis B akut maupun kronis. Pada kasus akut, HBsAg akan menghilang dalam waktu 6 bulan atau kurang. Sedangkan pada kasus kronis, HBsAg akan terus menerus ditemukan dalam darah lebih dari 6 bulan. Sekitar 97% orang dewasa muda yang terkena infeksi hepatitis B hanya mengalami fase akut, kemudian sembuh sendiri. Sisanya, terus berlanjut menjadi hepatitis kronis.
Lawan dari HBsAg adalah anti-HBS (hepatitis B surface antibody), yaitu antibodi yang dibentuk tubuh akibat rangsangan protein HBsAg. Gunanya untuk membantu melenyapkan virus hepatitis B. Pada orang yang hanya mengalami infeksi akut, dalam darahnya ditemukan anti-HBS. Kasus seperti ini juga disebut serokonversi anti-HBsAg. Berbeda halnya dengan mereka yang berlanjut ke hepatitis kronis, biasanya tidak ditemukan anti-HBS.
Ada dua jenis infeksi kronis hepatitis B, yaitu infeksi ‘tenang’ dan infeksi aktif. Pada infeksi tenang, virus hepatitis B bersembunyi dalam sel hati atau sel lainnya. Virus tidak memperbanyak diri atau kalaupun memperbanyak diri, jumlahnya sangat sedikit. Karena itu, dalam keadaan infeksi tenang, penderita tidak menularkan penyakitnya ke orang lain. Sebaliknya, pada infeksi aktif, virus aktif memperbanyak diri dan ditemukan dalam jumlah cukup besar di dalam darah. Pada tipe infeksi ini, penularan ke orang lain dapat terjadi. Di kedua jenis infeksi kronis ini, nilai HBsAg ditemukan positif. Untuk membedakannya harus dilakukan pemeriksaan protein virus lainnya yaitu HBeAg (hepatitis B e-antigen). Protein ini hanya ditemukan jika virus aktif bereplikasi (infeksi aktif).
Interpretasi Hasil Pemeriksaan
HBsAg negatif: orang yang diperiksa belum pernah terpapar virus hepatitis B atau pernah terpapar tetapi hanya mengalami infeksi akut dan virus telah dilenyapkan.
HBsAg positif: penderita sedang mengalami infeksi tetapi tidak diketahui apakah dapat menularkan ke orang lain atau tidak.
Anti-HBs positif: penderita mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B, diperoleh dari vaksinasi atau infeksi yang sembuh sebelumnya.
HBeAg positif: virus aktif memperbanyak diri dan penderita dapat menularkan virus hepatitis B ke orang lain.
HBeAg negatif : virus sedang tenang dan tidak aktif bereplikasi, penderita tidak dapat menularkan virus ke orang lain. Tetapi sebagai catatan, beberapa galur virus hepatitis B tidak memproduksi protein HBeAg walaupun sedang aktif memperbanyak diri.
Sumber: http://www.wartamedika.com, 13 Februari 2010

Penderita Hepatitis B Dapat Sembuh

Januari 29, 2010

Sabtu, 30 Mei 2009 | 15:50 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com

Hasil penelitian internasional terbaru terhadap pasien hepatitis B yang menjalani terapi dengan PEG Interferon Alfa 2-a (40D), tidak ditemukan lagi antigen-s atau bisa disebut sembuh secara klinis.
“Hasil penelitian ini suatu terobosan baru yang sangat penting karena berdampak pada penurunan besar risiko kanker hati, sirosis, dan peningkatan harapan hidup,” kata pakar hati, Prof.Laurentinus Lesmana, dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (30/5).
Prof Laurentinus mengatakan, hepatitis B adalah masalah kesehatan yang sangat mengkhawatirkan. Data terakhir menunjukkan lebih dari 350 juta orang di dunia terinfeksi virus tersebut dan satu juta orang meninggal setiap tahun serta merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian terbesar.
“Hingga beberapa waktu terakhir, kesembuhan klinis pada pengobatan hepatitis B masih dianggap tidak mungkin. Tapi para pakar dunia membuat terobosan terbaru dan membuktikan dicapai kesembuhan klinis,” ucapnya.
Pakar hati lain, Dr Poernomo, mengatakan, temuan awal tersebut akan ditegaskan kembali dengan penelitian internasional hepatitis B yang melibatkan 24 negara dan salah satunya Indonesia. “Di Indonesia akan dilibatkan 50 pasien dari tiga kota yaitu Jakarta, Surabaya, dan Bandung selama setahun,” katanya.
Selama ini obat-obatan hepatitis yang ada, kata Dr Poernomo, tidak membunuh virus hepatitis secara total karena virus sejak lama masuk ke dalam inti sel di hati dan kemudian terus berkembang.
“Karena itu ditemukan obat bagaimana membuat sistem imunitas muncul dalam tubuh sehingga virus tersebut hancur total,” katanya. (C8-09)

Hello world!

Januari 29, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!